Selasa, 27 September 2016

sejarah sandai kabupaten ketapang

Hasil gambar untuk photo pawan 1 sandai kabupaten ketapang

Puake Tapah; Sande dan Sandai
Kau tau Sandai?, ya sandai, kalau kau bukan dari Ketapang, bisa lah kau buka – buka google map dan cari kata Sandai, Ketapang, Kalimantan Barat. Jika saja kita semua punya akses untuk meliat pencitraan satelit yang lebih baik dari pada sekedar googleearth maka kau akan terkagum – kagum pada kampung yang dibentengi bukit – bukit dan dibelah kedua sisinya oleh Sungai Pawan.
Jika kau siang hari sampai disana, kau akan melihat suakang – suangkang pasar mengangkuti gandum atau kotak dari toko – toko hokian menuruni tangga kayu berbambang 12 menuju lanting dan menaikannya ke Perahu bermotor yang sedia menunggu dibawah. Kau akan segera merasa kegerahan atas sempitnya pasar oleh Hilux, strada, avanza hingga pickup dekil yang parkir membelah kedua badan jalan, menjadi pemisah antara lajur kiri dan kanan.
Maka cepat – cepatlah kau menyebrangi sungai melewati Jembatan Pawan 3, di Sandai Kiri (Kalau tadi di pasar itu Sandai Kanan) kau akan diterima oleh jalan – jalan aspal melewati anak sungai Kediuk, kemudian oper gigimu ke gigi 2 karena kau akan segera menaiki kaki bukit kudung dari jalan natai perak.
Di Sandai itu Kawan, kalau kau bangun subuh sekali, kau tidak akan melihat apa – apa selain kerlap kerlip cahaya lampu 5 watt diseberang. Semua tertutup Kabut tebal, halimun dingin berasal dari hutan dadap Bukit – bukit yang mengelilinginya, hawanya dingin, tapi Indah. Itu Sandai Kawan.
###
Sandai kata Orang sudah didiami bahkan sejak Zaman Rasulullah masih hidup, ada bukti sejarah yang masih diteliti tentang Nisan bertarikh 127 H atau 745 Masehi di Sandai, walau bisa kau bayangkan, saat itu nama Sandai belum menjadi Sebuah nama. Di Sandai juga sudah ada kerajaan yaitu Inderalaya, sebuah kerajaan Melayu-Arab dengan kekuasaan berbatas Banjarmasin di selatan dan Brunei di Utara, kerajaan ini merupakan kota polis bagian dari Imperium Kesultanan Tanjung Pura. Begitu besarnya dahulu Sandai.
Aku akan bercerita tentang sebuah hikayat yang sudah hampir setua namanya. Hikayat ku ini adalah tentang kegagahan orang – orang lama di Sandai yang menaklukan tantangan bernama Tapah, ikan Tapah ini suka makan segala jenis hal yang lebih kecil darinya, dari mulai Ikan hingga monyet. Dan bayangkanlah bagaimana kiranya, jika ikan tapah yang bergigi tajam dan kata orang pernah menggigit manusia itu adalah ikan tapah peninggalan masa – masa prasejarah? Ya, Ikan Tapah Raksasa, atau orang ketapang sebutnya Puake Tapah.
Ikan prasejarah inilah yang tiba – tiba muncul di Perairan Pawan Sandai. Penduduk menjadi heboh, karena semua yang mengapung diterkamnya. Orang tak bisa menyeberang, orang tak bisa memancing, orang tak bisa mengambil air. Kehidupan segera saja menjadi susah payah, dizaman itu usah kau bayangkan sudah ada jembatan, bahkan perahu pun masih berperahu jalur, khas pendatang awal proto melayu dari daratan Yunan dan Vietnam.
Semua usaha sudah dilakukan untuk membunuh Puake Ikan Tapah itu, dari mulai memasang tubak hingga mengutus pawang dari Cali.
Namun, bukanlah Tapah namanya jika terbunuh karena tubak, dia Cuma menghilang sebentar, lalu seperti kerbau mabuk, dia mengamuk menghantam tebing – tebing tanah lelabi, rumah tinggi bergetar dibuatnya.
Demikian pula Pawang, apalah daya, pendidikan pawang kita Cuma sampai pawang ular dan buaya, manalah ada yang berpendidikan pawang Tapah. Bukannya dapat menyelesaikan si Puake Tapah, malahan si pawang diselesaikan oleh puake karena dengan beraninya dia turun kesungai mengantar sesaji dan ramun.
Berbulan penderitaan berlanjut, orang menjadi ketakutan sering memanjat pohon - pohon sepanjang Sungai untuk memperhatikan dimana Tapah itu muncul atau menerkam mangsa, dahulu di tepian sungai Sandai berderet pepohonan untuk mempertahankan tanah dari laju abrasi, ada berbagai pohon dari mulai kopi hingga karet, serta tentu saja Pokok Jejawi dan Kelemantan, akarnya terjuntai menyentuh sungai, tempat anak – anak memanjat dan berayun seakan dirinya anak rimba.
###
Musim berganti, kemarau pun datang, batu – batu granit sisa lemparan Pegunungan Vulkanik Purba bermunculan ditengah – tengah sungai. Dan datanglah tokoh kita, seorang tio ciu peraeh Damar yang banyak bersebaran diperbukitan Sandai, Damar dulu digunakan sebagai pemantik api. Sejak lama orang kampung Sandai mengusahakan Damar, hingga salah satu perbukitannya disebut Pendamaran. Perahu si Tio Ciu hancur diterkam Puake Tapah, tapi dengan kemampuan meringankan tubuh yang didapatnya dari pelajaran bertempur di Tiongkok dapatlah dia meraih akar – akar pokok jejawi dan selamat dari terkaman Tapah.
Orang – orang kampung heran melihat dirinya selamat dan lebih heran lagi dia juga mengaku punya ide untuk menyingkirkan ikan purba itu. Maka pekat punya pekat, mufakat telah tercapai, orang tiociu ini akan membantu menyingkirkan Tapah, jika berhasil maka ia akan dibuatkan perahu besar dan diisi dengan Damar sepenuhnya. Orang tiociu satu ini sebagai mana orang Tiongkok lainnya sudah sejak lama mengetahui bahan – bahan peledak, dan dia juga tahu bahwa damar yang dikumpulkan menjadi satu akan menghasilkan panas yang cukup untuk membakar kayu sekalipun dan apalagi ditambah dengan panas kalori tubuh. Maka dia meminta Orang kampung membuat Rakit yang diisik Damar yang banyak.
Setelah jadi, diapungkannya Rakit itu, ditolaknya dari tepi dengan penggalah panjang, betul saja, sampai di tengah dengan rakusnya Tapah menerkam rakit damar itu. Sepenuh Rakit damar ditelannya. Sejam dua jam ditunggu masyarakat ditepi sungai, semua sudah khawatir si Tiociu ini tak berhasil. Saat ditanya pak demung, tak ada seuntai kata keluar, dia pun sudah hilang keyakinan diri.
Senja memerahkan ufuk barat, masyarakat sudah kehilangan asa dan merunduk meninggalkan tepian sungai. Tinggallah beberapa orang termasuk demung dan tiociu. Dan saat itulah kejadian hebat terjadi didepan mata mereka, air tiba – tiba bergolak hebat, ikan purba itu melompat tinggi mengatasi pokok kelemantan, lalu kembali ke air, semua terkena cipratan airnya, amis, amis tapah, amis darah, tapah itu mulai berdarah.
Matahari tenggelam, gelap gulita memayungi kampung tua itu. Suar dikeluarkan, tapi tak satupun orang bisa melihat dimanakah Si Puake Tapah itu. Maka mereka pun hanya berharap cemas, memohon agar ide Tio Ciu itu berhasil. Sepanjang malam, yang terdengar hanya riak air berguruh besar dan hentaman ditebing – tebing sungai.
Hingga diujung malam mereka mendengar leguhan panjang dan merasakan getaran hebat seperti ada kapal besar menubruk tebing – tebing lelabi mereka. Mereka terdiam, tak bisa tidur, namun tak juga bisa keluar dalam pekat dan halimun tebal.
###
Kuning mencerahkan pagi diufuk barat, kabut belum lagi beranjak dari sungai disaat demung dan si tio ciu turun dari rumahnya berbekal suar dan obor. Tak Hanya mereka, semua penduduk desa juga sudah menuruni rumah mereka menuju tebing sungai. Dan seiiring terangkatnya halimun dari pertemuan rindunya dengan sungai, terangkat pula lah beban hidup mereka. Ikan Tapah Besar itu tersandar dengan perut pecah ditebing kuning tanah lelabi kampung mereka.
“Tesade, tesade, tapah tesade” Entah siapa memulai, semua penduduk berteriak yang sama, artinya kira - kira Tapah tersandar. Dan sejak itu Orang – orang kampung di daerah tempat Tapah Tesade itu dengan bangga menyebut diri mereka orang Sande.
Lalu ketika Indonesia terbentuk, Sande yang merupakan logat asli melayu dicoba Indonesiakan menjadi Sandai, hal yang sama terjadi di Pulau Belitung yang awalnya berasal dari Billiton atau orang melayu menyebutnya Belitong, atau Skulah yang berasal dari cara ucap bahasa Inggri School menjadi Sekolah.
Akhirnya kawan, kini secara administratif Sande telah berubah nama menjadi Sandai. Demikian hikayat asal nama Sandai.
(sumber utama Alm. Ba'udin dan Mamak, kan kite orang Sande... hehehe)
Hasil gambar untuk photo pawan 1 sandai kabupaten ketapang




jual laptop asus dan smartphone

ASUS T100HA-FU014T
ASUS T100HA-FU014T

ASUS X450JB-WX001D BLACK
ASUS X450JB-WX001D BLACK